Penerimaan seseorang
terhadap suatu hal tidaklah sama dengan penerimaanya terhadap seorang pendidik
yang telah berjasa mengembangkan dan mengarahkan bakat alamiahnya, meluaskan
cakrawala pemikirannya, menanamkan kebiasaan ramah dan murah hati dalam
dirinya, mengajarkan kepadanya bahwa sebaik-baik tujuan hidup adalah berusaha
menjadi sumber kebaikan bagi masyarakatnya sesuai dengan kemampuannya, mengarahkannya
agar senantiasa menjadi matahari yang memancarkan cahaya, kasih sayang dan
kebaikan, dan yang telah menuntunnya agar memiliki hati yang penuh dengan
empati, kasih sayang, rasa perikemanusiaan, serta merasa senang berbuat baik
kepada siapa saja yang berhubungan dengannya.
Setiap kali melihat
kesulitan, jiwa seseorang yang murah senyum justru akan menikmati kesulitan itu
dengan memacu diri untuk mengalahkannya. Begitu ia memperlakukan suatu
kesulitan; melihatnya lalu tersenyum, menyiasatinya lalu tersenyum, dan
berusaha mengalahkannya lalu tersenyum. Berbeda dengan jiwa manusia yang selalu
risau. Setiap kali menjumpai kesulitan, ia ingin segera meninggalkannya dan
melihatnya sebagai sesuatu yang amat sangat besar dan memberatkan dirinya. Dan
itulah yang acapkali menyebabkan semangat seseorang menurun dan asanya
berkurang.
Bahkan, tak jarang orang
seperti ini berdalih dengan kata-kata "Seandainya ...," "Kalau
saja ...," dan "Seharusnya ...." Orang seperti ini sangatlah
nista. Bukan zaman yang mengutuknya, tapi dirinya dan pendidikan yang telah membesarkannya.
Bagaimana tidak, ia menginginkan keberhasilan dalam menjalani kehidupan ini,
tapi tanpa mau membayar ongkosnya. Orang seperti ini ibarat seseorang yang
hendak berjalan tetapi selalu dibayangi oleh seekor singa yang siap menerkam
dirinya dari belakang. Akibatnya, ia hanya menunggu langit menurunkan emasnya
atau bumi mengeluarkan kandungan harta karunnya.
Kesulitan-kesulitan dalam
kehidupan ini merupakan perkara yang nisbi. Yakni, segala sesuatu akan terasa
sulit bagi jiwa yang kerdil, tapi bagi jiwa yang besar tidak ada istilah
kesulitan besar. Jiwa yang besar akan semakin besar karena mampu mengatasi
kesulitan-kesulitan itu.
Sementara jiwa yang kecil
akan semakin sakit, karena selalu menghindar dari kesulitan itu. Kesulitan itu
ibarat anjing yang siap menggigit; ia akan menggonggong dan mengejar Anda bila
Anda tampak ketakutan saat melihatnya. Sebaliknya, ia akan membiarkan Anda
berlalu di hadapannya dengan tenang bila Anda tak menghiraukannya, atau Anda
berani memelototinya.
Penyakit yang paling
mematikan jiwa adalah rasa rendah diri. Penyakit ini dapat menghilangkan rasa
percaya diri dan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri. Maka dari
itu, meski berani melakukan suatu pekerjaan, ia tak akan pernah yakin dengan
kemampuan dan keberhasilan dirinya. Ia juga melakukannya dengan tanpa
perhitungan yang matang, dan akhirnya gagal.
Percaya diri adalah sebuah
karunia yang sangat besar. Ia merupakan tiang penyangga keberhasilan dalam
kehidupan ini. Adalah sangat berbeda antara "percaya diri" dengan
"terlalu percaya diri". Terlalu percaya diri merupakan perilaku
negatif yang senantiasa membuat jiwa bergantung pada khayalan dan kesombongan
semu.
Sedangkan percaya diri merupakan
hal positif yang akan mendorong setiap jiwa untuk bergantung pada kemampuannya
sendiri dalam memikul suatu tanggung jawab. Dan karena itu, ia akan terdorong
untuk senantiasai mengembangkan kemampuannya dan mempersiapkan diri dengan
matang dalam menghadapi segala sesuatu.
Elia Abu Madhi berkata:
Orang
berkata, "Langit selalu berduka dan mendung."
Tapi
aku berkata, "Tersenyumlah, cukuplah duka cita di langit sana."
Orang
berkata, "Masa muda telah berlalu dariku."
Tapi
aku berkata, "Tersenyumlah, bersedih menyesali masa muda tak kan pernah
mengembalikannya"
Orang
berkata, "Langitku yang ada di dalam jiwa telah membuatku merana dan
berduka.
Janji-janji
telah mengkhianatiku ketika kalbu telah menguasainya.
Bagaimana
mungkin jiwaku sangggup mengembangkan senyum manisnya
Maka
akupun berkata,"Tersenyum dan berdendanglah, kala kau membandingkan semua
umurmu kan habis untuk merasakan sakitnya.
Orang
berkata, "Perdagangan selalu penuh intrik dan penipuan, ia laksana musafir
yang akan mati karena terserang rasa haus."
Tapi
aku berkata, "Tetaplah tersenyum, karena engkau akan mendapatkan penangkal
dahagamu.
Cukuplah
engkau tersenyum, karena mungkin hausmu akan sembuh dengan sendirinya.
Maka
mengapa kau harus bersedih dengan dosa dan kesusahan orang lain, apalagi sampai
engkau seolah-olah yang melakukan dosa dan kesalahan itu?
Orang
berkata, "Sekian hari raya telah tampak tanda-tandanya seakan memerintahkanku
membeli pakaian dan boneka-boneka. Sedangkan aku punya kewajiban bagi
teman-teman dan saudara, namun telapak tanganku tak memegang walau hanya satu
dirham adanya
Ku
katakan: Tersenyumlah, cukuplah bagi dirimu karena Anda masih hidup, dan engkau
tidak kehilangan saudara-saudara dan kerabat yang kau cintai.
Orang
berkata, " Malam memberiku minuman 'alqamah tersenyumlah, walaupun kau
makan buah 'alqamah
Mungkin
saja orang lain yang melihatmu berdendang akan membuang semua kesedihan.
Berdendanglah Apa kau kira dengan cemberut akan memperoleh dirham atau kau
merugi karena menampakkan wajah berseri?
Saudaraku,
tak membahayakan bibirmu jika engkau mencium
juga
tak membahayakan jika wajahmu tampak indah berseri
Tertawalah,
sebab meteor-meteor langit juga tertawa
mendung
tertawa, karenanya kami mencintai bintang-bintang
Orang
berkata, "Wajah berseri tidak membuat dunia bahagia yang datang ke dunia
dan pergi dengan gumpalan amarah.
Ku
katakan, "Tersenyumlah, selama antara kau dan kematian ada jarak
sejengkal, setelah itu engkau tidak akan pernah tersenyum."
Sungguh, kita sangat
butuh pada senyuman, wajah yang selalu berseri, hati yang lapang, akhlak yang
menawan, jiwa yang lembut, dan pembawaan yang tidak kasar. "Sesungguhnya
Allah mewahyukan kepadaku agar kalian berendah hati, hingga tidak ada salah
seorang di antaramu yang berlaku jahat pada yang lain dan tidak ada salah
seorang di antaramu yang membanggakan diri atas yang lain." (Al-Hadits)
No comments:
Post a Comment