Senyuman tak akan ada
harganya bila tidak terbit dari hati yang tulus dan tabiat dasar seorang
manusia. Setiap bunga tersenyum, hutan tersenyum, sungai dan laut juga
tersenyum. Langit, bintang-gemintang dan burung-burung, semuanya tersenyum. Dan
manusia, sesuai watak dasarnya adalah makhluk yang suka tersenyum.
Itu bila dalam dirinya
tidak bercokol penyakit tamak, jahat, dan egoisme yang selalu membuat rona
wajah tampak selalu kusut dan cemberut. Adapun bila ketiga hal itu meliputi
seseorang, niscaya ia akan menjelma sebagai manusia yang selalu mengingkari
keindahan alam semesta. Artinya, orang yang selalu bermuram durja dan pekat
jiwanya tak akan pernah melihat keindahan dunia ini sedikitpun. Ia juga tak
akan mampu melihat hakekat atau kebenaran dikarenakan kekotoran hatinya.
Betapapun, setiap manusia
akan melihat dunia ini melalui perbuatan, pikiran dan dorongan hidupnya. Yakni,
bila amal perbuatannya baik, pikirannya bersih dan motivasi hidupnya suci, maka
kacamata yang akan ia gunakan untuk melihat dunia ini pun akan bersih.
Dan karena itu, ia akan
melihat dunia ini tampak sangat indah mempesona. Namun, bila tidak demikian, maka
kacamata yang akan ia gunakan melihat dunia ini adalah kacamata gelap yang
membuat segala sesuatu di dunia ini tampak serba hitam dan pekat.
Ada jiwa-jiwa yang dapat membuat
setiap hal terasa berat dan sengsara. Tapi, ada pula jiwa-jiwa yang mampu
membuat setiap hal menjadi sumber kebahagiaan. Konon, ada seorang wanita yang
di rumahnya selalu melihat segala sesuatu salah di matanya. Akibatnya,
sepanjang hari ia merasa dalam gelap gulita; hanya karena sebuah piring pecah,
makanan keasinan karena terlalu banyak garam, atau kakinya menginjak sobekan
kertas di dalam kamar, ia sontak berteriak dan memaki siapa dan apa saja yang
ada di rumahnya. Hal seperti ini sangat berbahaya sebagaiamana percikan api yang
setiap saat siap melahap apa saja yang ada di depannya.
Ada pula seorang laki-laki
yang acapkali membuat hidupnya dan orang-orang disekelilingnya terasa berat dan
sengsara hanya dikarenakan dirinya salah dalam memahami atau mengartikan maksud
perkataan orang lain, perkara atau kesalahan sepele yang terjadi pada dirinya,
keuntungan kecil yang tak berhasil diraihnya, atau dikarenakan oleh sebuah
keuntungan yang tidak sesuai dengan harapannya.
Begitulah ia memandang
dunia ini; semua terasa gelap. Ironisnya, ia pun akan membuat semua itu terasa
gelap pula oleh orang lain di sekitarnya. Dan orang-orang seperti ini sangat
mudah mendramatisir suatu keburukan; sebuah biji kesalahan ia besar-besarkan hingga
tampak sebesar kubah, dan setangkai benih kesulitan dapat terasa seperti
sebatang pohon kesengsaraan. Maka dari itu, mereka pun tidak memiliki kemampuan
untuk melakukan kebaikan. Mereka tidak pernah puas dan senang dengan sebanyak
apapun pemberian yang pernah ia terima.
Hidup ini adalah seni
bagaimana membuat sesuatu. Dan seni harus dipelajari serta ditekuni. Maka
sangatlah baik bila manusia berusaha keras dan penuh kesungguhan mau belajar
tentang bagaimana menghasilkan bunga-bunga, semerbak harum wewangian, dan
kecintaan di dalam hidupnya. Itu lebih baik daripada ia terus menguras tenaga
dan waktunya hanya untuk menimbun harta di saku atau gudangnya. Apalah arti
hidup ini, bila hanya habis untuk mengumpulkan harta benda dan tak dimanfaatkan
sedikitpun untuk meningkatkan kualitas kasih sayang, cinta, keindahan dalam
hidup ini ?
Banyak orang yang tidak
mampu melihat indahnya kehidupan ini. Mereka hanya membuka matanya untuk dirham
dan dinar semata. Maka, meskipun berjalan melewati sebuah taman yang rindang,
bunga-bunga yang cantik mempesona, air jernih yang memancar deras,
burung-burung yang berkicau riang, mereka sama sekali tidak tertarik dengan
semua itu.
Di mata dan pikirannya
hanya ada uang —berapa yang masuk dan keluar hari itu— saja. Padahal, kalau
dipikir lebih dalam, sebenarnya ia hams membuat uang itu menjadi sarana yang
baik untuk membangun sebuah kehidupan yang bahagia. Tapi sayang, mereka justru
membalikkan semuanya; mereka menjual kebahagiaan hidup hanya demi mendapatkan
uang, dan bukan bagaimana membeli kebahagiaan hidup dengan uang.
Struktur mata kita telah
diciptakan sedemikian rupa dan unik agar kita dapat melihat keindahan. Namun,
ternyata kita acapkali membiasakannya hanya untuk melihat uang dan uang.
Tidak ada yang membuat jiwa
dan wajah menjadi demikian muram selain keputusasaan. Maka, jika Anda
menginginkan senyuman, tersenyumlah terlebih dahulu dan perangilah
keputusasaan. Percayalah, kesempatan itu selalu terbuka, kesuksesan selalu
membuka pintunya untuk Anda dan untuk siapa saja. Karena itu, biasakan pikiran
Anda agar selalu menatap harapan dan kebaikan di masa yang akan datang.
Jika Anda meyakini diri
Anda diciptakan hanya untuk meraih hal-hal yang kecil, maka Anda pun hanya akan
mendapatkan yang kecil-kecil saja dalam hidup ini. Tapi sebaliknya, bila Anda
yakin bahwa diri Anda diciptakan untuk menggapai hal-hal yang besar, niscaya
Anda akan memiliki semangat dan tekad yang besar yang akan mampu menghancurkan
semua aral dan hambatan.
Dengan semangat itu pula
Anda akan dapat menembus setiap tembok penghalang dan memasuki lapangan
kehidupan yang sangat luas untuk suatu tujuan yang mulia. Ini dapat kita
saksikan dalam banyak kenyataan hidup.
Barangsiapa ikut lomba lari
seratus meter misalnya, ia akan merasa capek tatkala telah menyelesaikannya.
Lain halnya dengan seorang peserta lomba lari empat ratus meter, ia belum
merasa capek tatkala sudah menempuh jarak seratus atau dua ratus meter.
Begitulah adanya, jiwa
hanya akan memberikan kadar semangat sesuai dengan kadar atau tingkatan sesuatu
yang akan dicapai seseorang. Maka, pikirkan setiap tujuan Anda. Dan jangan
lupa, hendaklah tujuan Anda itu selalu yang tinggi dan sulit dicapai.
No comments:
Post a Comment