Di
dunia ini, banyak orang yang kaya karena terlebih dahulu bersusah payah dalam
masa mudanya. Oleh karena itu, tak usah bersedih bila Anda harus bersusah
payah, dan tak usah takut dengan beban hidup, sebab mungkin saja beban hidup
itu akan menjadi kekuatan bagimu serta akan menjadi sebuah kenikmatan pada
suatu hari nanti. Jika Anda hidup dengan hati yang berkobar, cinta yang membara
dan jiwa yang bergelora, akan lebih baik dan lebih terhormat daripada harus
hidup dengan perasaan yang dingin, semangat yang layu, dan jiwa yang lemah.
{Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka
Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka:
"Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu."} (QS.
At-Taubah: 46)
Saya
teringat seorang penyair yang senantiasa menjalani kesengsaraan hidup,
menanggung cobaan yang tidak ringan, dan mengenyam pahitnya perpisahan. Sebelum
menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia sempat melantunkan qasidah yang indah,
segar, dan jujur. Dialah Malik ibn ar-Rayyib. Ia meratapi dirinya:
Tidakkah kau lihat aku menjual kesesatan
dengan hidayah
dan aku menjadi seorang pasukan Ibnu Affan
yang berperang
Alangkah indahnya aku, tatkala aku biarkan
anak-anakku
taat dengan mengorbankan kebun dan semua
harta-hartaku
Wahai kedua sahabat perjalananku, kematian
semakin dekat
berhentilah di tempat tinggi sebab aku akan
tinggal malam ini
Tinggallah bersamaku malam ini atau
setidaknya malam ini
jangan kau buat lari ia, telah jelas yang
akan menimpa
Goreslah tempat tidurku dengan ujung gerigi
dan kembalikan ke depan mataku kelebihan
selendangku
Jangan kau iri, semoga Allah memberkahi kau
berdua
dari tanah yang demikian lebar, semoga
semakin luas untukku
Demikianlah,
ungkapan-ungkapannya demikian syahdu, penyesalan yang sangat berat diucapkan,
dan teriakan yang memilukan. Itu semua menggambarkan betapa kepedihan itu
meluap dari hati sang penyair yang mengalami sendiri kepedihan dan kesengsaraan
hidup. Ia tak ubahnya seorang penasehat yang juga pernah merasakan apa yang ia
ucapkan. Dan, biasanya, perkataan atau nasehat orang seperti itu akan mudah
masuk ke dalam relung kalbu dan meresap ke dalam ruh yang paling dalam. Semua
itu adalah karena ia mengalami sendiri kehidupan pahit dan beban berat yang ia
bicarakan.
{Maka, Allah mengetahui apa yang ada dalam
hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada
mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).} (QS. Al-Fath: 18)
Jangan cela orang yang sedang kasmaran
hingga belitan keras deritamu berada dalam
derita dirinya
Saya
banyak menjumpai syair-syair terasa sangat dingin, tidak hidup, dan tidak ada
ruhnya. Itu, bisa jadi karena kata-kata yang teruntai dalam bait-bait tersebut
bukan terbit dari sebuah pengalaman pribadi sang penyair, tetapi suatu dikarang
dan direka-reka dalam aura kesenangan. Karya-karya yang demikian itu tak
ubahnya dengan potongan-potongan es dan bongkahan-bongkahan tanah; dingin dan
tawar.
Saya juga
pernah membaca karangan-karangan yang berisi nasehat-nasehat yang sedikit pun
tak mampu menggerakkan ujung rambut orang yang mendengarkannya dan tidak mampu
menggerakkan satu titik atom pun dalam tubuhnya. Semua itu, tak lain karena nasehat-nasehat
itu tidak terucap dari mulut seseorang yang langsung pernah mengalami dan menghayati
sendiri suatu kesedihan dan kesengsaraan.
{Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang
tidak terkandung dalam hatinya.} (QS. Ali 'Imran: 167)
Agar
ucapan dan syair Anda dapat menyentuh hati pembacanya, masuklah terlebih dahulu
ke dalamnya. Sentuhlah, rasakanlah dan resapilah niscaya Anda akan mampu
memberikan sentuhan ke tengah masyarakat.
{Kemudian, apabila telah Kami turunkan air
di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam
tumbuh-tumbuhan yang indah.} (QS. Al-Hajj: 5)
No comments:
Post a Comment